Agak shock disaat saya
mendapati angka yang tertera di layar kasir. Dua puluh lima ribu untuk sebuah
face paper. Dengan sigap dia mengeluarkan dompetnya dan membayarnya. Well, im
pretty sure he feels the same thought with me. What a price!
Setelah itu kami kembali
melangkah, dan terus melangkah. Hingga kami menemukan KFC, yah sepertinya ini
tempat yang pas untuk sejenak beristirahat. Dan sepertinya pula, kata sejenak
hanya sebagai kiasan di sini.
Setelah memesan pesanan
masing-masing kami memilih lantai atas untuk menjadi tempat kami
berbincang-bincang. Haha, yang saya maksud adalah makan besar kok.
Kami memulai perbincangan
dan makan sekitar pukul setengah lima sore. Kami terus berbincang, dan tak ada
sedetik pun dari kami yang merasakan bosan. I mean, saya tidak merasakan bosan,
dan saya bisa merasakan bahwa dia pun merasakan hal yang sama. Anyway, dia
cerewet sekali. Presentase bercerita dia lebih banyak daripada saya. Jauh lebih
banyak. Dia bercerita tentang beberapa teori konspirasi, yang membuat saya
berpikir bahwa dia seorang reader yang baik. And, gotcha! Dia bilang dia suka
sekali membaca buku, terutama tentang teori-teori seperti Illuminate dan lain
sebagainya yang sebangsa.
Sedangkan dia tidak menyukai buku berbau novel
ataupun sastra. Yup, berbeda sekali dengan saya. Akan tetapi, secerewet apapun
dia saat itu, dan semua bahan pembicaraan yang dia lontarkan successfully made
me confuse and think twice, entah mengapa saya begitu senang mendengar dia
bercerita. Berbicara tentang apapun yang ia pikirkan. Dan semua yang dia
lontarkan seperti sebuah sihir bagi saya untuk mencari tahu lebih dalam tentang
dirinya.
Dia berpawakan tinggi, 178
cm. Dengan cara jalan yang sangat saya sukai. Postur tubuh yang kokoh, namun
tidak terlalu kekar membuat saya tertegun sesaat setelah memandanginya berjalan
di depan saya. Wajahnya tidak buruk, tidak pula terlalu ganteng. Tapi cukup
enak untuk dipandang, yah karena postur tubuh dia yang kata cewe-cewe diluar
sana sih ‘peluk-able’, but neither for me. Menurut saya, dia memang ganteng,
yah ganteng dari segi apapun. I think I like him! (twice)
Disaat saya berjalan
disampingnya, saya merasa bahwa saya dapat menjadi orang lain di sekitar kami
yang sedang mengamati dua sosok remaja beranjak dewasa yang sedang berjalan
dengan asyiknya sembari berbincang dan tertawa dengan los. Saya lumayan susah
untuk menyamakan langkah dengannya, karena kaki dia yang panjang sedangkan saya
tampak seperti liliput di samping dia membuat saya kewalahan. Lagi-lagi entah mengapa
saya tidak merasa keberatan dengan adanya perbedaan ini. Well, karena setelah
berbincang-bincang di KFC hamper selama 3 jam itu, saya menemukan banyak
kesamaan diantara kami berdua. Yup, 3 jam tanpa ada rasa boring dan hambar.
Jam menunjukkan pukul
setengah delapan malam dan kami rasa saatnya kami untuk pindah venue. Jadi kami
memutuskan untuk menuju halte trans Jogja dan megambil jalur arah ke Amplaz.
Hal pertama yang ada di pikiran saya adalah, today will be the greatest day
ever! And we could spent our conversation at Amplaz.
Bis Trans Jogja mulai
melaju. Saya duduk bersebelahan dengannya. So close to him, eventhough nggak
nempel kaya perangko, but it just feels complete when I’m seat next to him.
Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya surga ketika saya berada disampingnya.
Tanpa bersentuhan sama sekali, hanya duduk di sebelahnya. Saya bukan termasuk
tipikal orang alay, saya berkata jujur apa adanya. Ya inilah yang saya rasakan.
I feels like there was heaven between us. I mean, in us. Dia benar-benar
membawa energy positif untuk saya.
Kami duduk dalam diam, tidak
seperti waktu kami di KFC tadi. Mungkin karena kami sudah mulai lelah, ditambah
goncangan bus dan AC yang membuat badan menjadi jauh lebih lemah dan mager.
Jadi saya hanya menyandarkan kepala ke kursi dan diam.
Sampai akhirnya dia membuka
pembicaraan. Dia bilang ‘Aku cerewet banget ya?’ dan saya bilang ‘Ah, nggak
juga. Aku suka dengerin kamu cerita kok’. Itu jawaban asli dalam hati, bukan
dibuat-buat ataupun rekayasa sekalipun scenario saya. Saya benar-benar menyukai
semua hal yang dia lakukan. Aneh sekali.
Kemudian dia kembali
berbicara. Dia bilang kalau dia lupa akan janji dengan saudaranya sekitar pukul
Sembilan malam, padahal kami masih ada satu venue lagi untuk dituju, Dan saya
yakin we will have another great time. Maka dnegan berat hati saya menyarankan
dia untuk menemui saudaranya, dan maybe we will have another great time on the
next days. We still have Tomorrow. Yah, saya rasa saya benar-benar berat untuk
melepasnya pulang duluan. Tapi mau gimana lagi, toh saya rasa janji saya
kepadanya sudah sepenuhnya terpenuhi, yaitu spend time with him in Yogyakarta.
Maka akhirnya dia turun di
halte Janti untuk naik bis jurusan Solo, dan saya masih duduk di dalam bus
Trans Jogja, sendiri. Saya terus menatapnya keluar bus dan memberikan senyum
terbaik saya yang kemudian pintu bus tertutup dan bus mulai bergerak maju. Yup.
Selesai sudah tugas saya hari ini. Kembali ke rutinitas semula dan siap bertemu
saudara setelah ini.
Sebenarnya, jujur saja.
Disaat dia melangkah keluar dari bus yang kami tumpangi, saya merasa bahwa saya
ini tidak sepenuhnya rela dia pulang terlebih dahulu. Saya rasa, hari kita
belum selesai, dan saya belum kelar menemani harinya di Jogja. Tapi mau
bagaimana lagi, mau tak mau saya harus menyarankan yang terbaik untuknya.
Untuk kesekian kalinya, saya
kembali mengucapkan kalimat ini, Kalimat yang terus menggebu di dalam hati
saya. Well, I think I like him!
kalo udah jadian makan-makan ya :))
ReplyDeleteTak undang rabiku wes :))
ReplyDelete