Thursday, February 14, 2013

I think I like him ?

Kami mencuat masuk ke kerumunan jalan Malioboro. Tak begitu padat seperti biasanya, tapi entah mengapa saya merasa begitu nyaman berjalan disampingnya. Kami berhenti sejenak di sebuah mini market untuk membeli beberpa cemilan dan face paper. Well yeah kami sudah membicarakannya di kereta, bahwa kami memang butuh face paper, karena selain wajah kita yang sudah mulai kucel, saya seperti mendapat feelings bahwa face paper itu bakal berguna tak hanya untuk hari itu saja.


Agak shock disaat saya mendapati angka yang tertera di layar kasir. Dua puluh lima ribu untuk sebuah face paper. Dengan sigap dia mengeluarkan dompetnya dan membayarnya. Well, im pretty sure he feels the same thought with me. What a price!

Setelah itu kami kembali melangkah, dan terus melangkah. Hingga kami menemukan KFC, yah sepertinya ini tempat yang pas untuk sejenak beristirahat. Dan sepertinya pula, kata sejenak hanya sebagai kiasan di sini.


Setelah memesan pesanan masing-masing kami memilih lantai atas untuk menjadi tempat kami berbincang-bincang. Haha, yang saya maksud adalah makan besar kok.

Kami memulai perbincangan dan makan sekitar pukul setengah lima sore. Kami terus berbincang, dan tak ada sedetik pun dari kami yang merasakan bosan. I mean, saya tidak merasakan bosan, dan saya bisa merasakan bahwa dia pun merasakan hal yang sama. Anyway, dia cerewet sekali. Presentase bercerita dia lebih banyak daripada saya. Jauh lebih banyak. Dia bercerita tentang beberapa teori konspirasi, yang membuat saya berpikir bahwa dia seorang reader yang baik. And, gotcha! Dia bilang dia suka sekali membaca buku, terutama tentang teori-teori seperti Illuminate dan lain sebagainya yang sebangsa. 

Sedangkan dia tidak menyukai buku berbau novel ataupun sastra. Yup, berbeda sekali dengan saya. Akan tetapi, secerewet apapun dia saat itu, dan semua bahan pembicaraan yang dia lontarkan successfully made me confuse and think twice, entah mengapa saya begitu senang mendengar dia bercerita. Berbicara tentang apapun yang ia pikirkan. Dan semua yang dia lontarkan seperti sebuah sihir bagi saya untuk mencari tahu lebih dalam tentang dirinya.

Dia berpawakan tinggi, 178 cm. Dengan cara jalan yang sangat saya sukai. Postur tubuh yang kokoh, namun tidak terlalu kekar membuat saya tertegun sesaat setelah memandanginya berjalan di depan saya. Wajahnya tidak buruk, tidak pula terlalu ganteng. Tapi cukup enak untuk dipandang, yah karena postur tubuh dia yang kata cewe-cewe diluar sana sih ‘peluk-able’, but neither for me. Menurut saya, dia memang ganteng, yah ganteng dari segi apapun. I think I like him! (twice)

Disaat saya berjalan disampingnya, saya merasa bahwa saya dapat menjadi orang lain di sekitar kami yang sedang mengamati dua sosok remaja beranjak dewasa yang sedang berjalan dengan asyiknya sembari berbincang dan tertawa dengan los. Saya lumayan susah untuk menyamakan langkah dengannya, karena kaki dia yang panjang sedangkan saya tampak seperti liliput di samping dia membuat saya kewalahan. Lagi-lagi entah mengapa saya tidak merasa keberatan dengan adanya perbedaan ini. Well, karena setelah berbincang-bincang di KFC hamper selama 3 jam itu, saya menemukan banyak kesamaan diantara kami berdua. Yup, 3 jam tanpa ada rasa boring dan hambar.

Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam dan kami rasa saatnya kami untuk pindah venue. Jadi kami memutuskan untuk menuju halte trans Jogja dan megambil jalur arah ke Amplaz. Hal pertama yang ada di pikiran saya adalah, today will be the greatest day ever! And we could spent our conversation at Amplaz.

Bis Trans Jogja mulai melaju. Saya duduk bersebelahan dengannya. So close to him, eventhough nggak nempel kaya perangko, but it just feels complete when I’m seat next to him. Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya surga ketika saya berada disampingnya. Tanpa bersentuhan sama sekali, hanya duduk di sebelahnya. Saya bukan termasuk tipikal orang alay, saya berkata jujur apa adanya. Ya inilah yang saya rasakan. I feels like there was heaven between us. I mean, in us. Dia benar-benar membawa energy positif untuk saya.

Kami duduk dalam diam, tidak seperti waktu kami di KFC tadi. Mungkin karena kami sudah mulai lelah, ditambah goncangan bus dan AC yang membuat badan menjadi jauh lebih lemah dan mager. Jadi saya hanya menyandarkan kepala ke kursi dan diam.

Sampai akhirnya dia membuka pembicaraan. Dia bilang ‘Aku cerewet banget ya?’ dan saya bilang ‘Ah, nggak juga. Aku suka dengerin kamu cerita kok’. Itu jawaban asli dalam hati, bukan dibuat-buat ataupun rekayasa sekalipun scenario saya. Saya benar-benar menyukai semua hal yang dia lakukan. Aneh sekali.

Kemudian dia kembali berbicara. Dia bilang kalau dia lupa akan janji dengan saudaranya sekitar pukul Sembilan malam, padahal kami masih ada satu venue lagi untuk dituju, Dan saya yakin we will have another great time. Maka dnegan berat hati saya menyarankan dia untuk menemui saudaranya, dan maybe we will have another great time on the next days. We still have Tomorrow. Yah, saya rasa saya benar-benar berat untuk melepasnya pulang duluan. Tapi mau gimana lagi, toh saya rasa janji saya kepadanya sudah sepenuhnya terpenuhi, yaitu spend time with him in Yogyakarta.

Maka akhirnya dia turun di halte Janti untuk naik bis jurusan Solo, dan saya masih duduk di dalam bus Trans Jogja, sendiri. Saya terus menatapnya keluar bus dan memberikan senyum terbaik saya yang kemudian pintu bus tertutup dan bus mulai bergerak maju. Yup. Selesai sudah tugas saya hari ini. Kembali ke rutinitas semula dan siap bertemu saudara setelah ini.

Sebenarnya, jujur saja. Disaat dia melangkah keluar dari bus yang kami tumpangi, saya merasa bahwa saya ini tidak sepenuhnya rela dia pulang terlebih dahulu. Saya rasa, hari kita belum selesai, dan saya belum kelar menemani harinya di Jogja. Tapi mau bagaimana lagi, mau tak mau saya harus menyarankan yang terbaik untuknya.

Untuk kesekian kalinya, saya kembali mengucapkan kalimat ini, Kalimat yang terus menggebu di dalam hati saya. Well, I think I like him!

2 comments: