Monday, March 25, 2013

He is..

Hwellohh
I havent told you all. Umm. Im just getting some happiness out and here inside. A little happiness that I never enough to tell. This ain't lust. This is something called pure love.
Haha. You may chuckle to me but hell yeah this is what I felt about.
I learn a lot of things since I met him. I mean, since I knew him.

There were a boy when I was in school. He was in one grade while I was in third. I have no idea who was he or what the hell was his name. What I could see is I attracted by him. I wondering how if we could be together. And yeah, he's the one who catching eye after my unforgotten ex.....
Unfortunately, some of my friends get me bad responed when I asked them about him. HE IS ALREADY HAD A GIRLFRIEND. D'oh.... And the shocked one that his girlfriend was in the same grade as me. How lucky she is. :''

Time goes on. I journey my life. Me gettin college and everything's good.
Until Ive got broke up with my latest boy friend. - We lately felt that we are no longer in love anymore. He focused in his career and me as his work's partner. Then we got a deal to continue to live on our own. Right after that I just met someone accidentally, I've wrote down on my previous post anyway. So you just could read them ;)

Yeaaaaaaaaaaaah nanananana. It's now like dream comes true! I still cant believe that he could be mine. He could accompany me wherever I go, whatever I need, and be a part of my life.
And I found my real happiness. The things I find all whole my life I found on him. I could spent my time, all my time only with him. Just sit up all time and talk about anything we want to. I could go anywhere only with him, only two. I found me on him. I found my bitchy on him. I found my bad things on him. I found everything about me that couldnt be found in anyone, but him.

I know this is so ridiculous, but this is amazing. Fantastic. Boombastic. Ngahahaha. I never a fuck feel like this before. He is a part of my life that had been gone for a loong time, and now I could found him. I just still cant believe (again) to say that he is that 'The One' I've been looking for. I kne everything about him. I knew how asshole he is. And I loved those piece of ass as much I love my self.

Have you ever feel like you are really close to something that would make your heart beats faster. Not an hell faster as usual, this heartbeat was so damn anxiously, and I could feel that he also did it. and BINGO! He told me he also felt it. See..... I just even cant stop think this is just a lucky case. It's like have been done somewhen out there, and we had been together before. How could I say it? In case, we found a lot of  deja vu as we has been together now. What a funny.

He didn't do much to draw an attention, and I didn't do as bitchy to get him. God just set us to be together in the middle of our way to get a life. He had done much, and so do I.

I love him so much.


Thursday, February 14, 2013

I think I like him ?

Kami mencuat masuk ke kerumunan jalan Malioboro. Tak begitu padat seperti biasanya, tapi entah mengapa saya merasa begitu nyaman berjalan disampingnya. Kami berhenti sejenak di sebuah mini market untuk membeli beberpa cemilan dan face paper. Well yeah kami sudah membicarakannya di kereta, bahwa kami memang butuh face paper, karena selain wajah kita yang sudah mulai kucel, saya seperti mendapat feelings bahwa face paper itu bakal berguna tak hanya untuk hari itu saja.


Agak shock disaat saya mendapati angka yang tertera di layar kasir. Dua puluh lima ribu untuk sebuah face paper. Dengan sigap dia mengeluarkan dompetnya dan membayarnya. Well, im pretty sure he feels the same thought with me. What a price!

Setelah itu kami kembali melangkah, dan terus melangkah. Hingga kami menemukan KFC, yah sepertinya ini tempat yang pas untuk sejenak beristirahat. Dan sepertinya pula, kata sejenak hanya sebagai kiasan di sini.


Setelah memesan pesanan masing-masing kami memilih lantai atas untuk menjadi tempat kami berbincang-bincang. Haha, yang saya maksud adalah makan besar kok.

Kami memulai perbincangan dan makan sekitar pukul setengah lima sore. Kami terus berbincang, dan tak ada sedetik pun dari kami yang merasakan bosan. I mean, saya tidak merasakan bosan, dan saya bisa merasakan bahwa dia pun merasakan hal yang sama. Anyway, dia cerewet sekali. Presentase bercerita dia lebih banyak daripada saya. Jauh lebih banyak. Dia bercerita tentang beberapa teori konspirasi, yang membuat saya berpikir bahwa dia seorang reader yang baik. And, gotcha! Dia bilang dia suka sekali membaca buku, terutama tentang teori-teori seperti Illuminate dan lain sebagainya yang sebangsa. 

Sedangkan dia tidak menyukai buku berbau novel ataupun sastra. Yup, berbeda sekali dengan saya. Akan tetapi, secerewet apapun dia saat itu, dan semua bahan pembicaraan yang dia lontarkan successfully made me confuse and think twice, entah mengapa saya begitu senang mendengar dia bercerita. Berbicara tentang apapun yang ia pikirkan. Dan semua yang dia lontarkan seperti sebuah sihir bagi saya untuk mencari tahu lebih dalam tentang dirinya.

Dia berpawakan tinggi, 178 cm. Dengan cara jalan yang sangat saya sukai. Postur tubuh yang kokoh, namun tidak terlalu kekar membuat saya tertegun sesaat setelah memandanginya berjalan di depan saya. Wajahnya tidak buruk, tidak pula terlalu ganteng. Tapi cukup enak untuk dipandang, yah karena postur tubuh dia yang kata cewe-cewe diluar sana sih ‘peluk-able’, but neither for me. Menurut saya, dia memang ganteng, yah ganteng dari segi apapun. I think I like him! (twice)

Disaat saya berjalan disampingnya, saya merasa bahwa saya dapat menjadi orang lain di sekitar kami yang sedang mengamati dua sosok remaja beranjak dewasa yang sedang berjalan dengan asyiknya sembari berbincang dan tertawa dengan los. Saya lumayan susah untuk menyamakan langkah dengannya, karena kaki dia yang panjang sedangkan saya tampak seperti liliput di samping dia membuat saya kewalahan. Lagi-lagi entah mengapa saya tidak merasa keberatan dengan adanya perbedaan ini. Well, karena setelah berbincang-bincang di KFC hamper selama 3 jam itu, saya menemukan banyak kesamaan diantara kami berdua. Yup, 3 jam tanpa ada rasa boring dan hambar.

Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam dan kami rasa saatnya kami untuk pindah venue. Jadi kami memutuskan untuk menuju halte trans Jogja dan megambil jalur arah ke Amplaz. Hal pertama yang ada di pikiran saya adalah, today will be the greatest day ever! And we could spent our conversation at Amplaz.

Bis Trans Jogja mulai melaju. Saya duduk bersebelahan dengannya. So close to him, eventhough nggak nempel kaya perangko, but it just feels complete when I’m seat next to him. Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya surga ketika saya berada disampingnya. Tanpa bersentuhan sama sekali, hanya duduk di sebelahnya. Saya bukan termasuk tipikal orang alay, saya berkata jujur apa adanya. Ya inilah yang saya rasakan. I feels like there was heaven between us. I mean, in us. Dia benar-benar membawa energy positif untuk saya.

Kami duduk dalam diam, tidak seperti waktu kami di KFC tadi. Mungkin karena kami sudah mulai lelah, ditambah goncangan bus dan AC yang membuat badan menjadi jauh lebih lemah dan mager. Jadi saya hanya menyandarkan kepala ke kursi dan diam.

Sampai akhirnya dia membuka pembicaraan. Dia bilang ‘Aku cerewet banget ya?’ dan saya bilang ‘Ah, nggak juga. Aku suka dengerin kamu cerita kok’. Itu jawaban asli dalam hati, bukan dibuat-buat ataupun rekayasa sekalipun scenario saya. Saya benar-benar menyukai semua hal yang dia lakukan. Aneh sekali.

Kemudian dia kembali berbicara. Dia bilang kalau dia lupa akan janji dengan saudaranya sekitar pukul Sembilan malam, padahal kami masih ada satu venue lagi untuk dituju, Dan saya yakin we will have another great time. Maka dnegan berat hati saya menyarankan dia untuk menemui saudaranya, dan maybe we will have another great time on the next days. We still have Tomorrow. Yah, saya rasa saya benar-benar berat untuk melepasnya pulang duluan. Tapi mau gimana lagi, toh saya rasa janji saya kepadanya sudah sepenuhnya terpenuhi, yaitu spend time with him in Yogyakarta.

Maka akhirnya dia turun di halte Janti untuk naik bis jurusan Solo, dan saya masih duduk di dalam bus Trans Jogja, sendiri. Saya terus menatapnya keluar bus dan memberikan senyum terbaik saya yang kemudian pintu bus tertutup dan bus mulai bergerak maju. Yup. Selesai sudah tugas saya hari ini. Kembali ke rutinitas semula dan siap bertemu saudara setelah ini.

Sebenarnya, jujur saja. Disaat dia melangkah keluar dari bus yang kami tumpangi, saya merasa bahwa saya ini tidak sepenuhnya rela dia pulang terlebih dahulu. Saya rasa, hari kita belum selesai, dan saya belum kelar menemani harinya di Jogja. Tapi mau bagaimana lagi, mau tak mau saya harus menyarankan yang terbaik untuknya.

Untuk kesekian kalinya, saya kembali mengucapkan kalimat ini, Kalimat yang terus menggebu di dalam hati saya. Well, I think I like him!

Wednesday, February 6, 2013

A place on earth called heaven is to be beside you. Yes, only here next to you.

Saya mulai menulis ini, mengingat banyak yang harus saya utarakan dan perjelas. Bukan tentang pernyataan, atau kebohongan atau hal-hal yang fiktif. Ini tentang cerita, dua manusia yang dipertemukan secara tidak sengaja, yang tidak lain dinamakan kebetulan. Tapi, bagi kami semua yang telah terjadi hingga saat ini bukan lagi kebetulan. Terlalu banyak kesamaan diantara kami, dan kenyataan dimana kami berdua memang ditakdirkan untuk bertemu.

Berawal dari sebuah topi. Memang topi biasa, topi jerami yang cocok dikenakan disaat kalian ada di pantai untuk melindungi kepala dari sinar matahari. Atau hanya sekedar hiasan penutup kepala sebagai pelengkap suasana di pantai. Saat itu, ada sebuah acara yang memaksa saya untuk (yah sebenernya bukan memaksa, tetapi lebih mengharuskan, hehe) mengenakan topi macam jerami itu. Meskipun kalau saya tidak mengenakannya saya juga ngga akan dihukum sesampainya disana, tetapi entah mengapa, kali ini saya menginginkan totalitas. Bukannya selama ini saya setengah-setengah, tapi entah mengapa saya harus mendapatkan topi tersebut. Ya, kebetulan saya memang ngga pernah beli topi macam begituan, yang kemudian membuat saya untuk menghubungi beberapa rekan saya yang sekiranya berpeluang mempunyai topi jerami tersebut.

Di suatu pagi setelah saya sarapan bersama 3 teman sewaktu saya SMA, kami meluncur ke SMA kami dulu untuk sekedar bersilaturrahmi dengan atmosfernya. Hihi. Kebetulan, saya juga ada kencan dengan orang yang hendak meminjamkan saya topi jerami tersebut.

Ditengah perbincangan kami, saya mendapatkan sms bahwa dia sudah sampai di sekolah bagian muka. Dia bisa saja masuk menemuiku di dalam sekolah, toh juga dia bersekolah disitu. Tetapi dia hanya member kabar bahwa dia telah sampai di muka sekolah. Kemudian, saya menghampirinya dan meninggalkan handphone saya bersama dengan teman saya.

Aku fikir, apa mungkin dia terburu-buru? Hanya menunggu di muka sekolah, bukannya masuk menemuiku. Dan aku menyimpulkan, yah ini akan menjadi transaksi topi biasa. I mean, dia menyerahkan topi yang saya maksud, kemudian I’d say thanks to him then he went home right after that. Well, I was wroooooooooong.

You know what, we almost spent 1 hour conversation! Kami saling berbicara dan bercerita satu sama lain. Menyenangkan sekali rasanya. Sedih disaat dia berkata ‘Kamu kok sekarang kurusan?’ dengan wajah yang terheran-heran. Dan saya memberikan respon wajah yang ga kalah heran. Saya kira, sebegitu kuruskah saya? Yang kedua, sampai manakah dia memperhatikan saya selama ini. Orang ketemu aja jarang bangeeeet. Haha.

Banyak yang kami bicarakan selama itu. Dan entah waktu berjalan begitu cepat, hingga disaat dua rekan saya menemui saya yang tak kunjung balik, dan mengajak pulang, saya merasakan ada hal yang kurang. Ya, saya merasa kalau we need more more more time to talk each other!

Right after hari itu, saya tidak menghubungi dia sama sekali. Yah, agar tidak menimbulkan kesan yang berbeda. Saya tidak ingin terlihat 'gampang', toh juga saya orang yang tidak menggebu-gebu dan kesannya lebih santai. Let it flow (he teach me a lot about it).

Beberapa hari berlalu semenjak acara dimana saya mengenakan topi jerami tersebut. Saya rasa sudah waktunya juga saya untuk mengembalika topi tersebut. Akan tetapi, saya belum menemukan waktu yang tepat untuk kembali bertemu dengannya. Well then, topi masih terus saya bawa hingga suatu hari saya berencana untuk pergi ke kota Jogja. Menjenguk saudara saya. Dia, si pemilik topi tiba-tiba saja chat saya menanyakan niatan saya yang hendak ke Jogja setelah dia membaca status jejaring social saya. Jujur saja, saya merasa apa ini intermezzo? Atau memang dia hanya sedang suntuk dan menemukan teman yang bisa dia ajak jalan ke Jogja. Maka akhirnya, saya memutuskan untuk bertemu dengannya di stasiun, dan kami berangkat dengan kereta yang sama.

Saya menunggu di waiting seat, dan kemudian dia sudah ada dihadapan saya. Dengan tubuh yang tegap, tinggi dan menurut saya gagah diselimuti jaket jeans kesukaannya (bagaimana bisa saya menyelipkan kata kesukaannya, pertama kali jalan bareng aja juga belum dimulai??), celana jeans slim fit dan sepatu Nike biru dongker kesukaan saya. Yup, saya menyukai sepatunya! Apa yang harus kuperbuaaat? Haha.

Good, he’s a responsible boy and bertanggung jawab, I thought. Sebelum saya ke stasiun, dia sudah sampai di stasiun dahulu untuk membeli tiket, dikarenakan tiket yang terbatas dengan jumlah permintaan penumpang yang tak kalah banyaknya. Dia pulang, dan kemudian kembali lagi ke stasiun. I think I like him!

Karena saya belum sempat sarapan, yah… Kebiasaan sehari-hari. Dia kudu menemani saya sarapan di kantin stasiun sambil menunggu kereta kami datang.

Saya menghabiskan 2 porsi nasi kucing. Bukan hal yang luar biasa, tapi entah kalau ternyata porsi makan saya waktu itu diperhatikan oleh dia (Well, saya mengetahuinya sebulan setelah itu). Di sela-sela saya menikmati nasi kucing sarapan saya, tiba-tiba ada orang yang berdiri di sebelah saya, dan menyapa saya “Looooh kamu?”

Memasuki kereta. Aku berharap bisa mendapatkan banyak pembicaraan dengannya selama di kereta. Dan kupikir dia pasti juga merasakan hal yang sama. Gatau deh, hanya feeling. Hehe. Tapi ternyataaaaa, gajadi deh. Ternyata yang tadi menghampiri saya itu teman semasa saya SD. Teman dekat. Litya namanya. We got a lot conv at train. Yeaaaa, dan saya juga ga lupa untuk sesekali ngobrol sama dia yang satunya lagi.

Saat itu saya membawa tas berisi beberapa pakaian yang membuat tas yang saya cangklong itu terombang-ambing mengikuti alur laju goncangan kereta. Ternyata, tas tersebut mengganggu penumpang yang duduk di bawah saya. Saat itu saya menengok kebelakang dan mendapati dia duduk sambil menahan tas saya agar tidak mengenai kepala penumpang lain. Saya tertegun, Bagaimana bisa dia melakukan hal itu? I mean, itu hal yang biasa sih, tapi…. Dia melakukannya dengan sangat sempurna, seperti apa yang saya rasa pas di hati. Pas sekali.

Teman SD saya turun di stasiun pertama. Setelah berpamitan dan keluar dari pintu kereta, well, finally I could have a talk with him. Nananana~

I promise to accompany him to take a walk before I meet my cousins. Jadi kita ke Malioboro right after we arrived at stasiun tugu. Dan saya menemukan hal yang merubah hidup saya selanjutnya di dalam dirinya...