Saya mulai menulis ini, mengingat
banyak yang harus saya utarakan dan perjelas. Bukan tentang pernyataan, atau
kebohongan atau hal-hal yang fiktif. Ini tentang cerita, dua manusia yang
dipertemukan secara tidak sengaja, yang tidak lain dinamakan kebetulan. Tapi,
bagi kami semua yang telah terjadi hingga saat ini bukan lagi kebetulan.
Terlalu banyak kesamaan diantara kami, dan kenyataan dimana kami berdua memang
ditakdirkan untuk bertemu.
Berawal dari sebuah topi. Memang
topi biasa, topi jerami yang cocok dikenakan disaat kalian ada di pantai untuk
melindungi kepala dari sinar matahari. Atau hanya sekedar hiasan penutup kepala
sebagai pelengkap suasana di pantai. Saat itu, ada sebuah acara yang memaksa
saya untuk (yah sebenernya bukan memaksa, tetapi lebih mengharuskan, hehe)
mengenakan topi macam jerami itu. Meskipun kalau saya tidak mengenakannya saya
juga ngga akan dihukum sesampainya disana, tetapi entah mengapa, kali ini saya
menginginkan totalitas. Bukannya selama ini saya setengah-setengah, tapi entah
mengapa saya harus mendapatkan topi tersebut. Ya, kebetulan saya memang ngga
pernah beli topi macam begituan, yang kemudian membuat saya untuk menghubungi
beberapa rekan saya yang sekiranya berpeluang mempunyai topi jerami tersebut.
Di suatu pagi setelah saya
sarapan bersama 3 teman sewaktu saya SMA, kami meluncur ke SMA kami dulu untuk
sekedar bersilaturrahmi dengan atmosfernya. Hihi. Kebetulan, saya juga ada kencan
dengan orang yang hendak meminjamkan saya topi jerami tersebut.
Ditengah perbincangan kami, saya
mendapatkan sms bahwa dia sudah sampai di sekolah bagian muka. Dia bisa saja
masuk menemuiku di dalam sekolah, toh juga dia bersekolah disitu. Tetapi dia
hanya member kabar bahwa dia telah sampai di muka sekolah. Kemudian, saya
menghampirinya dan meninggalkan handphone saya bersama dengan teman saya.
Aku fikir, apa mungkin dia
terburu-buru? Hanya menunggu di muka sekolah, bukannya masuk menemuiku. Dan aku
menyimpulkan, yah ini akan menjadi transaksi topi biasa. I mean, dia
menyerahkan topi yang saya maksud, kemudian I’d say thanks to him then he went
home right after that. Well, I was wroooooooooong.
You know what, we almost spent 1
hour conversation! Kami saling berbicara dan bercerita satu sama lain.
Menyenangkan sekali rasanya. Sedih disaat dia berkata ‘Kamu kok sekarang
kurusan?’ dengan wajah yang terheran-heran. Dan saya memberikan respon wajah
yang ga kalah heran. Saya kira, sebegitu kuruskah saya? Yang kedua, sampai manakah
dia memperhatikan saya selama ini. Orang ketemu aja jarang bangeeeet. Haha.
Banyak yang kami bicarakan selama
itu. Dan entah waktu berjalan begitu cepat, hingga disaat dua rekan saya menemui
saya yang tak kunjung balik, dan mengajak pulang, saya merasakan ada hal yang
kurang. Ya, saya merasa kalau we need more more more time to talk each other!
Right after hari itu, saya tidak
menghubungi dia sama sekali. Yah, agar tidak menimbulkan kesan yang berbeda.
Saya tidak ingin terlihat 'gampang', toh juga saya orang yang tidak menggebu-gebu dan kesannya lebih santai. Let it flow (he teach me a lot about it).
Beberapa hari berlalu semenjak
acara dimana saya mengenakan topi jerami tersebut. Saya rasa sudah waktunya
juga saya untuk mengembalika topi tersebut. Akan tetapi, saya belum menemukan
waktu yang tepat untuk kembali bertemu dengannya. Well then, topi masih terus
saya bawa hingga suatu hari saya berencana untuk pergi ke kota Jogja.
Menjenguk saudara saya. Dia, si pemilik topi tiba-tiba saja chat saya menanyakan niatan
saya yang hendak ke Jogja setelah dia membaca status jejaring social saya.
Jujur saja, saya merasa apa ini intermezzo? Atau memang dia hanya sedang suntuk
dan menemukan teman yang bisa dia ajak jalan ke Jogja. Maka akhirnya, saya
memutuskan untuk bertemu dengannya di stasiun, dan kami berangkat dengan kereta
yang sama.
Saya menunggu di waiting seat,
dan kemudian dia sudah ada dihadapan saya. Dengan tubuh yang tegap, tinggi dan
menurut saya gagah diselimuti jaket jeans kesukaannya (bagaimana bisa saya
menyelipkan kata kesukaannya, pertama kali jalan bareng aja juga belum dimulai??), celana jeans
slim fit dan sepatu Nike biru dongker kesukaan saya. Yup, saya menyukai
sepatunya! Apa yang harus kuperbuaaat? Haha.
Good, he’s a responsible boy and
bertanggung jawab, I thought. Sebelum saya ke stasiun, dia sudah sampai di
stasiun dahulu untuk membeli tiket, dikarenakan tiket yang terbatas dengan
jumlah permintaan penumpang yang tak kalah banyaknya. Dia pulang, dan kemudian kembali lagi ke stasiun. I think I like him!
Karena saya belum sempat sarapan,
yah… Kebiasaan sehari-hari. Dia kudu menemani saya sarapan di kantin stasiun
sambil menunggu kereta kami datang.
Saya menghabiskan 2 porsi nasi
kucing. Bukan hal yang luar biasa, tapi entah kalau ternyata porsi makan saya waktu
itu diperhatikan oleh dia (Well, saya mengetahuinya sebulan setelah itu). Di
sela-sela saya menikmati nasi kucing sarapan saya, tiba-tiba ada orang yang
berdiri di sebelah saya, dan menyapa saya “Looooh kamu?”
Memasuki kereta. Aku berharap
bisa mendapatkan banyak pembicaraan dengannya selama di kereta. Dan kupikir dia
pasti juga merasakan hal yang sama. Gatau deh, hanya feeling. Hehe. Tapi
ternyataaaaa, gajadi deh. Ternyata yang tadi menghampiri saya itu teman semasa
saya SD. Teman dekat. Litya namanya. We got a lot conv at train. Yeaaaa, dan
saya juga ga lupa untuk sesekali ngobrol sama dia yang satunya lagi.
Saat itu saya membawa tas berisi beberapa pakaian yang membuat
tas yang saya cangklong itu terombang-ambing mengikuti alur laju goncangan
kereta. Ternyata, tas tersebut mengganggu penumpang yang duduk di bawah saya. Saat
itu saya menengok kebelakang dan mendapati dia duduk sambil menahan tas saya
agar tidak mengenai kepala penumpang lain. Saya tertegun, Bagaimana bisa dia
melakukan hal itu? I mean, itu hal yang biasa sih, tapi…. Dia melakukannya
dengan sangat sempurna, seperti apa yang saya rasa pas di hati. Pas sekali.
Teman SD saya turun di stasiun
pertama. Setelah berpamitan dan keluar dari pintu kereta, well, finally I could
have a talk with him. Nananana~
I promise to accompany him to
take a walk before I meet my cousins. Jadi kita ke Malioboro right after we
arrived at stasiun tugu. Dan saya menemukan hal yang merubah hidup saya
selanjutnya di dalam dirinya...